Liputansumatera.com
Tegas dan Lugas
28072026

Dari Tanah Selaro ke Meja Konsumen: Kisah KWT Embun Pagi Mengubah Singkong Menjadi Peluang Ekonomi

Oleh : N. Mardian Charles

MUSI BANYUASIN – Singkong atau ubi kayu selama ini dikenal sebagai hasil kebun sederhana. Namun, di Dusun Selaro, Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Musi Banyuasin, singkong memiliki cerita berbeda, diolah menjadi produk bernilai ekonomi dan membuka peluang baru bagi masyarakat setempat.

Di tangan dingin 12 perempuan Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi, singkong tidak lagi berhenti sebagai komoditas mentah. Bahan pangan lokal itu diolah menjadi sedikitnya enam produk, yakni tepung mocaf, tepung bumbu mocaf, stik bawang mocaf, stik keju mocaf, cookies kelapa mocaf dan Eyek-Eyek.

Perubahan tersebut berjalan melalui proses pendampingan, penguatan kapasitas, penyediaan sarana produksi hingga pembangunan rumah produksi melalui Program Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani Melalui Budidaya Singkong, bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PHE Jambi Merang.

Berdasarkan hasil investigasi Liputan Sumatera dari beberapa pihak, anggota aktif KWT Embun Pagi meningkat dari 8 menjadi 12 orang. Keterampilan pengolahan singkong meningkat dari 35 persen menjadi 75 persen, sementara produk olahan berkembang dari dua menjadi enam jenis.

Aktivitas usaha kelompok juga meningkat sekitar 50 persen dibandingkan sebelum program berjalan. Intensitas pertemuan yang sebelumnya sekitar satu hingga dua kali dalam sebulan kini mencapai tiga hingga empat kali.

Dari sisi pemasaran, pencatatan penjualan kelompok periode Juli 2025 hingga Februari 2026 menunjukkan produk Tepung Mocaf dan Eyek-Eyek menghasilkan nilai penjualan sekitar Rp7.067.000, dengan rata-rata sekitar Rp933.000 per bulan.

Bermula dari Budidaya Sayuran

Ketua KWT Embun Pagi, Rianti, menuturkan kelompok tersebut berdiri pada akhir 2021. Pada awalnya, kegiatan anggota lebih banyak berfokus pada budidaya sayuran.

Perubahan mulai terjadi setelah anggota mendapatkan pelatihan pengolahan singkong menjadi tepung mocaf. Dari pelatihan tersebut muncul gagasan untuk mengembangkan singkong menjadi berbagai produk bernilai tambah.

“Kelompok kami berdiri tahun 2021. Awalnya fokus pada sayuran. Kemudian kami mendapatkan pelatihan produk tepung mocaf dan mulai mengembangkan produk turunannya,” jelas Rianti.

Seiring berjalan waktu, kegiatan KWT Embun Pagi mulai mendapat perhatian dari berbagai pihak. Namun, mempertahankan anggota tetap aktif menjadi salah satu tantangan.

Menurut Rianti, saat ini terdapat 12 anggota yang aktif terlibat dalam kegiatan produksi.

“Sekarang yang aktif sekitar 12 orang. Kalau produksi memang membutuhkan tenaga, sehingga kami memilih anggota yang benar-benar aktif,” katanya.

Rumah Produksi Jadi Titik Perubahan

Salah satu perubahan penting bagi Kelompok Wanita Tani ini adalah hadirnya rumah produksi.

Bagi KWT Embun Pagi, bangunan tersebut bukan sekadar tempat bekerja. Rumah produksi menjadi ruang untuk mengembangkan keterampilan, menjalankan proses pengolahan secara lebih layak dan higienis, sekaligus menjadi pusat kegiatan kelompok.

Rumah Produksi singkong KWT Embun Pagi Dusun Selaro
Field Manager PHE Jambi Merang bersama Camat Bayung Lencir dan Kades Simpang Bayat, saat memantau Rumah Produksi singkong KWT Embun Pagi Dusun Selaro

Dukungan program PHE Jambi Merang juga mencakup peralatan produksi, alat pengering, pelatihan kewirausahaan, pendampingan pengemasan serta penguatan legalitas produk.

Produk olahan mocaf yang dikembangkan kelompok telah memperoleh izin PIRT, sehingga memberikan dasar legalitas untuk mendukung pemasaran dan meningkatkan kepercayaan konsumen.

Rianti berharap, legalitas dapat terus dilengkapi agar pemasaran produk semakin luas. “Kami ingin produksi semakin konsisten dan pemasaran semakin banyak. Harapan kami izin yang dibutuhkan bisa semakin lengkap sehingga kami bisa menjual produk lebih luas,” imbuhnya.

Dorongan PHE Jambi Merang Terhadap Potensi Lokal

Field Manager PHE Jambi Merang, R. Satrio, mengatakan program tersebut berangkat dari potensi yang sebenarnya sudah dimiliki masyarakat Desa Simpang Bayat.

Menurutnya, masyarakat telah memiliki produk lokal berbasis singkong. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dikembangkan agar tidak berhenti di tengah jalan.

“Kami melihat Desa Simpang Bayat sebenarnya sudah menghasilkan dan memiliki produk lokal. Kami dari PHE Jambi Merang lebih kepada mendorong, memicu dan menumbuhkan semangat warga, terutama ibu-ibu KWT Embun Pagi, agar pengolahan singkong dapat berkembang menjadi berbagai produk turunan,” jelasnya.

Field Manager PHE Jambi Merang, R. Satrio, saat memamerkan produk olahan dari singkong
Field Manager PHE Jambi Merang, R. Satrio, saat memamerkan produk olahan dari singkong

Dukungan diberikan secara bertahap melalui penyediaan peralatan, pengembangan konsep, diskusi, pendampingan dan penguatan proses produksi.

Menurut Field Manager PHE Jambi Merang, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada dukungan perusahaan. “Kami tentunya tidak bekerja sendiri. Dukungan dan penggerak dari masyarakat, dalam hal ini KWT Embun Pagi menjadi hal yang utama bagi kami,” imbuhnya.

Bukan Sekadar Produksi

Program pemberdayaan KWT Embun Pagi disusun dalam roadmap 2025–2027.

Tahun 2025 diarahkan pada penguatan kelembagaan, sosialisasi, identifikasi potensi dan peningkatan kapasitas dasar budidaya singkong.

Memasuki tahun 2026, fokus program bergeser pada penguatan produksi dan sarana pendukung melalui pembangunan rumah produksi, bantuan peralatan dan alat pengering, pelatihan kewirausahaan serta pengurusan legalitas.

Sementara pada 2027, program akan diarahkan menuju kemandirian dan keberlanjutan, termasuk penguatan kelembagaan, pengembangan kemitraan dan unit usaha kelompok.

Artinya, program tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk, tetapi membangun kemampuan kelompok agar mampu mengelola usaha secara mandiri.

Perempuan Menjadi Penggerak

Di balik produk olahan singkong tersebut terdapat peran 12 perempuan desa yang terlibat langsung dalam aktivitas produksi.

Ketua bersama pengurus dan anggota KWT Embun Pagi saat memperlihatkan hasil turunan dari produksi singkong
Ketua bersama pengurus dan anggota KWT Embun Pagi saat memperlihatkan hasil turunan dari produksi singkong

Bagi PHE Jambi Merang, penguatan peran perempuan menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat sekaligus upaya membuka ruang ekonomi bagi perempuan di tingkat desa.

“Kesetaraan gender perlu dimunculkan. Ternyata ibu-ibu juga mampu mengambil peran dalam pengolahan produk dan keberlanjutan usaha,” ujar Satrio.

Keterlibatan tersebut sekaligus membuka peluang agar generasi perempuan muda melihat potensi sumber daya lokal sebagai bagian dari peluang ekonomi.

Dari Singkong Menuju Ekonomi Sirkular

Inovasi KWT Embun Pagi bahkan mulai menyentuh pemanfaatan limbah. Kelompok didorong mengembangkan prototipe APAR model tabung berbahan limbah kulit singkong sebagai bagian dari upaya menerapkan konsep ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.

Ujicoba APAR model tabung berbahan limbah kulit singkong
Ujicoba APAR model tabung berbahan limbah kulit singkong

Dengan demikian, singkong tidak hanya dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan, tetapi bagian yang selama ini dianggap limbah juga mulai dilihat sebagai material yang memiliki potensi untuk dikembangkan.

Pasar Masih Menjadi Tantangan

Meski menunjukkan perkembangan, KWT Embun Pagi masih menghadapi tantangan dalam memperluas pemasaran. Saat ini produk dipasarkan melalui jaringan yang telah terbentuk, termasuk lingkungan sekitar dan dukungan jejaring PHE Jambi Merang.

Nilai penjualan sekitar Rp7 juta lebih menjadi salah satu indikator awal bahwa produk olahan singkong memiliki peluang pasar. Namun, kelompok masih membutuhkan penguatan produksi, legalitas, kemasan dan jaringan pemasaran untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Rianti menyadari perjalanan kelompok masih panjang. “Kami berharap siapa pun yang bisa membantu, baik pemerintah, perusahaan maupun pihak lain, dapat membantu produksi dan pemasaran. Kami ingin produk kami semakin dikenal dan bisa dipasarkan lebih luas,” harapnya.

Singkong dan Harapan dari Selaro

KWT Embun Pagi mungkin belum menjadi industri besar. Namun, perubahan yang terjadi menunjukkan satu hal: hasil bumi desa tidak harus selalu meninggalkan petani dalam bentuk bahan mentah.

Di Dusun Selaro, singkong mulai memiliki nilai baru melalui tangan perempuan-perempuan desa.

Ada rumah produksi, enam jenis produk olahan, peningkatan keterampilan anggota, legalitas PIRT, aktivitas usaha yang semakin rutin dan nilai penjualan jutaan rupiah.

Foto Bersama di Rumah Produksi Singkong Dusun Selaro Desa Simpang Bayat
Foto Bersama di Rumah Produksi Singkong Dusun Selaro Desa Simpang Bayat

Perjalanan itu masih panjang. Tetapi dari sebongkah singkong yang tumbuh di tanah Desa Simpang Bayat, KWT Embun Pagi sedang membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar produk pangan: pengalaman, kemandirian, peluang usaha dan harapan bagi ekonomi perempuan desa.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.